Tentang Kamu – Tere Liye

0

Judul           : Tentang Kamu
Penulis        : Tere Liye
Penyunting : Triana Rahmawati
Penerbit      : Republika
Cetakan      : Cetakan ketujuh, Februari 2017
Tebal Buku : VI + 524 halaman

Sempat pesimis dengan judul buku ini yang terkesan romantis picisan, saya tetap mengambil buku ini dari rak buku Indooroopilly Brisbane City Council Library. Memang baru-baru ini saja saya menemukan ada satu rak buku khusus untuk buku-buku berbahasa Indonesia. Sambil bersorak dalam hati dan kerinduan membaca buku berbahasa Indonesia, saya mengambil buku-buku yang menarik hati saya, khawatir keduluan orang lain karena koleksi buku berbahasa Indonesia yang tersedia disitu belum terlalu banyak. Dari keseluruhan 9 buku yang saya pinjam hari itu, buku Tere Liye berjudul “Tentang Kamu” ini saya baca belakangan mendekati tenggat waktu pengembalian buku. Kenapa belakangan? Selain judulnya yang menurut saya kurang menarik dibanding buku-buku lainnya yang saya pinjam, buku ini terkesan berat bahasanya dan paling banyak jumlah halamannya.

Sudah cukup lama saya tidak menemukan novel yang mampu membuat saya terperangkap ke dalam alur ceritanya sejak dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Tetapi sebegitu menariknya buku ini sehingga sanggup menggerakkan saya membuka lembaran demi lembarannya dengan rakus, sukses membuat penasaran dengan kejadian berikutnya. Tak terasa dalam 2 hari saya bisa menyelesaikan novel setebal 524 halaman ini. Sungguh merupakan catatan rekor bagi saya bisa menyelesaikan membaca buku secepat itu di sela-sela kesibukan saya sebagai ibu rumah tangga dengan anak balita sekaligus pengacara (pengangguran banyak acara). Ternyata bahasanya tidak berat sama sekali, ceritanya sungguh mengalir dan mudah dicerna otak saya yang biasanya sulit berkonsentrasi penuh duduk diam karena alih-alih menyelesaikan baca buku, malah sibuk memikirkan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya.

Novel Tentang Kamu oleh Tere Liye yang sedang saya baca ditemani gorengan, wafer dan teh manis oleh Kabaroz

Buku Tentang Kamu karya Tere Liye
Foto oleh Kiplan

Buku ini bercerita tentang seorang pemuda Indonesia, Zaman Zulkarnaen, yang bekerja sebagai junior associate di satu firma hukum di London. Ia harus secepatnya mengungkapkan kasus misteri warisan seorang wanita Indonesia bernama Sri Ningsih yang baru saja meninggal di sebuah panti jompo di Paris.

Hanya berbekalkan surat kepemilikan 1% saham di satu perusahaan besar yang dipercayakan kepada firma hukumnya dan telepon yang mengabarkan kematian Sri Ningsih, Zaman menelusuri potongan petunjuk demi petunjuk untuk menunaikan pembagian harta warisan setara 19 triliun rupiah seadil-adilnya sesuai mandat Sri Ningsih dan keadilan yang berlaku.

Petualangan Zaman menelusuri misteri kehidupan Sri Ningsih bermula di panti jompo di Paris. Berbekalkan diary Sri Ningsih yang dipercayakan kepadanya oleh penjaga panti, petualangan Zaman berlanjut ke pulau kecil di Indonesia dimana Sri Ningsih dilahirkan, kemudian ke madrasah di Surakarta tempat Sri Ningsih menimba ilmu dan bertemu dengan Nur’aini yang kelak menjadi sahabat hidupnya.

Zaman melipat lagi surat ketiga, memasukkannya ke dalam amplop. Menghela nafas perlahan. Berbulan-bulan Sri mencari pekerjaan, terdesak, nyaris menggelandang, baru di detik-detik terakhir Sri memperolehnya. Itu jelas bukan ‘keberuntungan’. Jika itu harus disebut keberuntungan, maka itulah keberuntungan kerja keras, pantang menyerah.

Rangkaian surat-menyurat Sri Ningsih dengan Nur’aini membawa Zaman ke Jakarta dimana Sri Ningsih mengadu nasib, lalu kembali ke London dan berakhir kembali di Paris dimana Sri Ningsih menghembuskan nafas terakhirnya.

Buku ini tentang ketabahan, kesabaran, keteguhan hati, etos kerja keras, keikhlasan, keluasan hati, dan ketulusan. Sangat menyentuh dan berulang kali saya harus berhenti membaca karena tiba-tiba tenggorokan tercekat dan air mata saya mengalir tanpa aba-aba. Bukan hanya karena iba dan terharu dengan nasib Sri Ningsih tetapi karena perenungan hidup yang lebih dalam akan refleksi kehidupan sendiri. Kalau tidak sampai menangis, pembaca minimal akan merasa terharu. Membaca buku ini membuat saya berhenti sejenak dari kesibukan duniawi untuk merenungi kembali tentang arti kehidupan.

Salah satu dari empat pertanyaan Eric adalah, “Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?” Zaman menjawab pendek, “Tidak ada Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan.”

Ini merupakan buku Tere Liye pertama yang saya baca. Bahkan saya belum pernah membaca novelnya yang paling terkenal “Hafalan Shalat Delisa” yang kemudian difilmkan dan dirilis tahun 2011 dibintangi oleh Reza Rahadian. Novel “Tentang Kamu” ini sukses membuat saya terkesan, penasaran dan tidak sabar ingin membaca karya Tere Liye lainnya. (Kiplan)

Share.

About Author

Leave A Reply